Swarasultra.id, Kendari – Penyaluran jagung pakan murah di Sulawesi Tenggara resmi tuntas 100 persen. Perum BULOG Kanwil Sultra mencatat sebanyak 1.544,75 ton jagung pakan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sukses digelontorkan hingga 8 Oktober 2026.
Capaian penuh ini menjadi angin segar sekaligus penentu napas bagi para peternak lokal di Sultra, memastikan ketersediaan pakan tetap terjaga dengan harga yang terjangkau di tengah ketidakpastian pasar.
Secara nasional, realisasi penyaluran SPHP jagung telah mencapai 185.699 ton atau sekitar 76,7 persen dari total alokasi 241.972 ton. Jagung pakan dalam program ini disalurkan dengan harga Rp5.500 per kilogram untuk membantu memenuhi kebutuhan bahan baku pakan sekaligus menjaga keberlangsungan usaha peternakan.
Pemimpin Wilayah Perum BULOG Kanwil Sultra, Erdi Baskoro, mengatakan percepatan penyaluran SPHP jagung merupakan langkah konkret untuk memastikan peternak memperoleh akses bahan baku pakan dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah.
“BULOG berkomitmen penuh memastikan jagung tersedia dan dapat diakses oleh para peternak dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah, yakni Rp5.500 per kilogram. Kami terus mengoptimalkan seluruh jaringan distribusi dan mempercepat penyaluran di berbagai wilayah agar manfaat program ini benar-benar dirasakan oleh peternak,” ujar Erdi dalam keterangan tertulis, Kamis (8/10/2026).
Menurutnya, stabilitas pasokan jagung tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan stok, tetapi juga keberlangsungan usaha peternak sebagai bagian penting dari ketahanan pangan nasional.
Pastikan stok jagung nasional cukup
Di tengah percepatan penyaluran, BULOG memastikan stok jagung pemerintah secara nasional masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan program SPHP.
Berdasarkan data per 7 Oktober 2026, persediaan jagung pemerintah yang dikelola BULOG mencapai 98.442 ton. Stok tersebut menjadi modal untuk melanjutkan penyaluran sesuai alokasi yang telah ditetapkan.
Untuk mempercepat distribusi, BULOG mengoptimalkan pergerakan stok antardaerah melalui mekanisme movement nasional (movenas), terutama untuk memenuhi kebutuhan di wilayah yang memerlukan tambahan pasokan.
Koordinasi dengan pemerintah, koperasi, asosiasi peternak, dan jajaran BULOG di daerah juga terus diperkuat agar sisa alokasi penyaluran dapat diselesaikan sesuai kebutuhan.
Erdi menegaskan, peternak tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan jagung karena stok nasional dinilai memadai untuk mendukung kelanjutan program.
“Fokus kami saat ini adalah mempercepat pergerakan stok ke daerah-daerah yang membutuhkan, sehingga tidak ada kendala distribusi yang menghambat peternak memperoleh jagung,” tambahnya.
Penyaluran jagung jangkau ribuan peternak
BULOG juga terus memperluas penyaluran SPHP jagung bagi peternak mikro. Hingga 7 Oktober 2026, realisasi penyaluran untuk segmen tersebut mencapai 112.205,78 ton atau 74,71 persen dari total pagu 150.171,75 ton.
Program ini telah menjangkau 151 koperasi dan asosiasi peternak dengan total 7.553 peternak di berbagai wilayah Indonesia.
Penyaluran melalui koperasi dan asosiasi dilakukan untuk memperluas akses peternak terhadap jagung pakan dengan harga terjangkau. Langkah ini diharapkan membantu menekan beban biaya produksi dan menjaga keberlanjutan usaha peternakan rakyat.
Target pengadaan jagung 1 Juta Ton
Selain menyalurkan jagung melalui program SPHP, BULOG menjalankan penugasan pengadaan Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) yang bersumber dari produksi petani dalam negeri.
Pada 2026, pemerintah menetapkan target pengadaan jagung sebesar 1 juta ton. Harga Pembelian Pemerintah (HPP) ditetapkan sebesar Rp6.400 per kilogram untuk jagung yang memenuhi standar kualitas di gudang BULOG.
Penyerapan jagung terus dioptimalkan melalui penguatan koordinasi dengan pemangku kepentingan dan jaringan pengadaan di daerah. Upaya ini ditujukan untuk memberikan kepastian pasar bagi petani sekaligus memperkuat cadangan jagung nasional.
Melalui pengadaan jagung dalam negeri, pengelolaan stok pemerintah, dan percepatan penyaluran SPHP, BULOG berupaya menjaga keseimbangan kepentingan petani sebagai produsen dan peternak sebagai pengguna jagung pakan.
Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan menjelang Natal 2026 dan Tahun Baru 2027, sekaligus mendukung keberlanjutan sektor peternakan dan ketahanan pangan nasional. (Red)












