EkonomiSultra

BI Sultra Ungkap Strategi Tekan Inflasi, Pariwisata dan Industri Pengolahan Jadi Andalan

×

BI Sultra Ungkap Strategi Tekan Inflasi, Pariwisata dan Industri Pengolahan Jadi Andalan

Sebarkan artikel ini
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara, Edwin Permadi (Foto KPwBI Sultra)

Swarasultra.id, Kendari – Bank Indonesia Sulawesi Tenggara punya resep baru untuk menjaga stabilitas harga pangan sekaligus mendongkrak ekonomi daerah yakni dengan menyuntik daya saing sektor pariwisata dan industri pengolahan.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Sulawesi Tenggara (Sultra) Edwin Permadi, mengatakan, penguatan sektor pariwisata dan industri pengolahan sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi daerah sekaligus mengendalikan inflasi.

Edwin menilai Sultra memiliki potensi besar di sektor pariwisata, pangan, perikanan, hingga produk lokal yang dapat dikembangkan melalui konektivitas dan kolaborasi antarpelaku usaha. Menurutnya, pengembangan pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan destinasi wisata. Konektivitas transportasi, hotel, restoran, travel, hingga produk lokal juga harus diperkuat agar wisatawan memiliki lebih banyak pilihan ketika berkunjung ke Sultra.

“Kalau datang ke Kendari mau diajak ke mana, harusnya terkoneksi. Kita punya banyak produk dan kualitasnya luar biasa, tetapi belum banyak yang mengetahui,” ungkap Edwin di hadapan para awak sejumlah jurnalis saat membuka kegiatan Capacity Building Media di salah satu hotel di Yogyakarta pada Senin (24/8/2026).

Edwin mencontohkan sejumlah daerah di Pulau Jawa yang berhasil mengembangkan pariwisata melalui kolaborasi antara destinasi, hotel, transportasi, dan pelaku usaha. Sultra tidak boleh hanya bergantung pada sektor pertambangan dan industri pengolahan. Sektor jasa, hotel, restoran, kuliner, dan pariwisata juga perlu dikembangkan untuk menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Industri Pengolahan Jadi Kunci Tekan Inflasi

Dalam kesempatan tersebut, Edwin juga menyoroti pentingnya memperkuat industri pengolahan pangan untuk menjaga stabilitas harga. Salah satu penyebab harga pangan relatif tinggi, lanjut Edwin, adalah masih terbatasnya pengolahan komoditas di Sultra. Beras, misalnya, masih banyak dipasarkan dalam bentuk gabah atau beras tanpa pengolahan lebih lanjut sehingga nilai tambahnya justru dinikmati daerah lain.

“Kita harus memperbanyak industri pengolahan. Jangan hanya menjual dalam bentuk bahan mentah, kemudian setelah diolah di daerah lain, produknya kembali ke kita dengan harga lebih tinggi,” jelasnya.

BI Sultra, kata Edwin, telah membantu sejumlah mitra dalam pengembangan penggilingan dan pengolahan komoditas pangan. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperpendek rantai distribusi. Edwin juga menyinggung komoditas minyak goreng. Menurutnya, Sultra memiliki potensi kelapa sawit, tetapi produksinya belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan daerah.

Kondisi serupa juga terjadi pada sejumlah komoditas lain, termasuk ikan. Tingginya kebutuhan industri pengolahan dapat menyerap pasokan ikan dari pasar sehingga berpotensi memengaruhi harga di tingkat masyarakat.

Minta Media Aktif Sampaikan Informasi Harga

Edwin mengajak media dan masyarakat untuk aktif memberikan informasi mengenai potensi daerah maupun perkembangan harga komoditas yang tidak wajar.
Informasi dari lapangan dinilai penting bagi BI Sultra dan pemerintah daerah untuk mengambil langkah cepat dalam pengendalian inflasi.

“Kalau Bapak-Ibu mengetahui tempat atau komoditas yang potensial, silakan informasikan kepada kami. Kalau memang bisa kita bantu, insyaallah kita bantu,” katanya.

Ia juga meminta masyarakat dan media melaporkan apabila menemukan lonjakan harga, termasuk harga kebutuhan pokok dan barang bersubsidi.
Menurut Edwin, informasi lapangan dapat menjadi dasar bagi BI untuk berkoordinasi dengan dinas terkait sehingga persoalan harga dapat segera ditindaklanjuti.

“Informasi itu sangat penting bagi kami. Kalau ada harga yang tidak wajar, langsung informasikan supaya bisa segera kami tindak lanjuti,” tegasnya.

Edwin menambahkan penguatan ekonomi daerah membutuhkan kolaborasi antara BI, pemerintah daerah, pelaku usaha, masyarakat, dan media. Dia berharap kegiatan bersama yang dilakukan BI Sultra dapat memperluas wawasan mengenai potensi ekonomi daerah sekaligus memperkuat koordinasi dan pertukaran informasi.

Selain sektor pangan dan pariwisata, potensi lokal seperti produk kerajinan, kain, kuliner, serta perikanan juga dinilai perlu terus dipromosikan dan dikembangkan.

“Yang kita harapkan adalah bertambahnya wawasan, pemahaman, pengetahuan, sekaligus semakin eratnya kerja sama dan koordinasi. Informasi dari media sangat kita butuhkan,” pungkas Edwin. (Red)

error: Content is protected !!