EkonomiHeadline

BI Sultra Gelar Capacity Building Media 2026 di Yogyakarta, Fokus Tingkatkan Kapasitas Jurnalis

×

BI Sultra Gelar Capacity Building Media 2026 di Yogyakarta, Fokus Tingkatkan Kapasitas Jurnalis

Sebarkan artikel ini
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara, Edwin Permadi (Foto Dok Humas BI Sultra)

Swarasultra.id, Yogyakarta – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBi) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) kembali melaksanakan program Capacity Building Media (CBM) 2026 di Yogyakarta selama tiga hari mulai dari tanggal 23–26 Agustus 2026. Sejatinya KPwBI tidak hanya berfokus pada upaya mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah, namun Bank sentral tersebut juga terus memperkuat kemitraan dengan media melalui peningkatan kapasitas dan kompetensi jurnalis.

Kegiatan CBM ini diikuti 28 peserta yang terdiri atas jurnalis media cetak, online, dan elektronik di Kota Kendari, serta perwakilan organisasi profesi dan organisasi media yang menjadi konstituen Dewan Pers di antaranya PWI, AJI, IJTI dan AMSI.

Upaya Bank Indonesia Provinsi Sultra untuk mewujudkan kapasitas dan kompetensi jurnalis ini dilakukan dengan beragam kegiatan. Setibanya di Yogyakarta International Airport (YIA) pada Minggu (23/8/2026), para peserta diajak mengunjungi destinasi wisata Geblek Pari di Dusun Pronosutan, Desa Kembang, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo.

Destinasi tersebut menawarkan wisata kuliner dengan konsep pedesaan, panorama perbukitan Menoreh, serta hamparan persawahan. Kunjungan ini menjadi bagian dari agenda pengenalan potensi wisata dan ekonomi kreatif di Yogyakarta.

Selanjutnya peserta CBM mengunjungi Museum Sonobudoyo yang berada di kawasan Alun-Alun Utara dan Keraton Yogyakarta. Di museum tersebut, para jurnalis melihat berbagai koleksi kebudayaan, mulai dari wayang, keris dan senjata tradisional, topeng, busana adat, perhiasan, peralatan upacara, hingga naskah kuno dan manuskrip tradisional.

Kepala Perwakilan BI Sultra, Edwin Permadi, mengatakan CBM merupakan program rutin yang bertujuan meningkatkan pemahaman dan kompetensi jurnalis mengenai isu ekonomi, kebijakan moneter, dan kebanksentralan.

Menurut Edwin, kegiatan tersebut memiliki tiga manfaat utama, yakni meningkatkan pemahaman, memberikan insight, serta memperkuat koordinasi dan pertukaran informasi antara media dan BI, khususnya Kantor Perwakilan BI Sultra.

Peserta CBM foto bersama Kepala KPwBI dan staf (Foto Dok Humas BI Sultra)

“Ada tiga manfaat dari pelaksanaan Capacity Building Media. Pertama memberikan pemahaman, kedua memberikan insight, dan ketiga mempererat koordinasi dan informasi antara sesama media dan Bank Indonesia, khususnya Perwakilan Sulawesi Tenggara,” kata Edwin saat membuka CBM di salah satu hotel di Yogyakarta, Senin (24/8/2026).

Edwin menegaskan, jurnalis dari berbagai media merupakan mitra strategis BI. Media lanjut Edwin, menjadi salah satu sumber informasi penting bagi BI dalam memahami berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat.
Informasi dari media juga dapat menjadi referensi bagi BI dalam melihat persoalan pelaku usaha hingga potensi pariwisata yang perlu mendapat perhatian dan tindak lanjut.

“Hubungan yang baik antara media dan Bank Indonesia Sultra selama ini terus dijaga melalui komunikasi yang terbuka dan saling memahami peran masing-masing,” ujarnya.

Melalui CBM 2026, Edwin berharap kapasitas jurnalis semakin meningkat sehingga mampu menghasilkan pemberitaan yang berkualitas, berimbang, dan memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya terkait isu ekonomi dan kebijakan Bank Indonesia.

CBM juga diisi dengan bincang media mengenai perkembangan ekonomi terkini Sulawesi Tenggara yang menghadirkan Kepala Seksi Kehumasan BI Sultra, Zulpan Riski Amanda

Zulpan menjelaskan bahwa ekonomi Sulawesi Tenggara pada triwulan II 2026 tumbuh sebesar 6,19 persen secara tahunan atau year on year (yoy), meskipun mengalami sedikit perlambatan dibandingkan triwulan I 2026 yang mencapai 6,23 persen. Sementara pertumbuhan ekonomi Sultra pada triwulan II 2026 masih berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,29 persen.

“Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara pada triwulan II 2026 tetap menunjukkan kinerja yang positif dengan pertumbuhan 6,19 persen secara tahunan, meskipun sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya,” ujar Zulpan.

Dari sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi Sultra terutama didorong oleh sektor industri pengolahan, konstruksi, perdagangan besar dan eceran, serta pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Sementara dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), konsumsi pemerintah, ekspor, dan konsumsi rumah tangga.

Zulpan menjelaskan, sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang memiliki potensi besar untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi Sultra ke depan melalui peningkatan produktivitas dan hilirisasi.

“Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara ke depan masih dapat diperkuat melalui akselerasi sektor pertanian serta perluasan konstruksi dan industri, dengan tetap memperhatikan berbagai tantangan eksternal dan kondisi global,” katanya.

Salah satu potensi pengembangan sektor pertanian yakni program peremajaan 38 juta bibit kelapa dan kakao serta optimalisasi 8.200 hektare lahan di Kolaka Utara yang diharapkan dapat memperluas lapangan kerja dan memperkuat ketahanan ekonomi daerah

Selain pertanian, sektor konstruksi dan investasi juga terus berkembang, salah satunya didorong pembangunan kawasan industri nikel di Kolaka serta pembangunan fasilitas pemurnian dan infrastruktur pendukung.

Namun, pertumbuhan ekonomi Sultra masih menghadapi sejumlah faktor penahan, terutama industri pengolahan nikel yang terdampak pemangkasan RKAB 2026 dan kenaikan harga sulfur global.Kenaikan harga sulfur berpengaruh terhadap biaya produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), dengan sulfur menjadi salah satu komponen terbesar dalam struktur biaya produksi, yakni sekitar 56 persen.

Di lokasi yang sama, Ilham Hidayat, selaku Fungsi Perumusan Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah Provinsi BI Sultra menjelaskan bahwa inflasi tidak berarti seluruh harga barang dan jasa mengalami kenaikan secara bersamaan. Terdapat sejumlah komoditas yang menjadi pendorong inflasi, sementara komoditas lainnya justru menahan laju inflasi.

“Ke depan tentunya ada dua risiko yang perlu kita waspadai. Pertama, kondisi global yang masih sangat menentukan ketidakpastian,” ujarnya.

Ilham bilang, konflik global berpotensi berdampak terhadap harga minyak dan gas. Kenaikan harga energi tersebut selanjutnya dapat memengaruhi biaya transportasi dan distribusi barang.

Risiko kedua berasal dari faktor lokal dan musiman. Menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), termasuk Maulid Nabi Muhammad SAW, permintaan terhadap telur dan daging ayam secara historis berpotensi meningkat.

AI Bantu Jurnalis, Tapi Intuisi dan Etika Tetap Tak Bisa Digantikan

Peserta juga mendapatkan pembekalan terkait perkembangan dunia jurnalistik, khususnya pemanfaatan teknologi dalam kerja-kerja media. Materi yang diberikan meliputi optimalisasi kecerdasan buatan (AI) bagi jurnalis, kode etik jurnalistik, serta praktik langsung penggunaan AI untuk membantu proses pembuatan berita.

Materi tersebut disampaikan Reza Awal dan Septa Ryan Hidayat, trainer Media Indonesia Institute yang juga berfokus pada bidang Digital Marketing Communication.

Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin membuka peluang bagi jurnalis untuk bekerja lebih cepat dan efisien. Namun, teknologi tersebut tetap memiliki keterbatasan sehingga tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran manusia dalam menjalankan profesi jurnalistik.

Hal tersebut disampaikan Reza dalam paparannya mengenai Teori Pengoptimalan AI bagi Jurnalis dan Kode Etik Jurnalis. Ia menegaskan bahwa AI merupakan teknologi yang tetap membutuhkan pelatihan dan pengawasan agar dapat digunakan secara optimal.

Menurut Reza, AI masih memiliki sejumlah kekurangan, terutama dalam aspek kredibilitas, intuisi, serta kemampuan memahami situasi di lapangan yang menjadi bagian penting dalam kerja jurnalistik.

“AI itu masih banyak kekurangannya, dari sisi kredibilitas dan intuisi di lapangan tidak bisa dilakukan AI, seperti bertemu dengan pimpinan daerah dan memberi tanggapan. Jadi balik lagi dalam menjalankan profesi jurnalis dibutuhkan pengalaman dari rekan-rekan pers,” terang dia.

Ia menekankan, pengalaman jurnalistik tetap menjadi modal penting yang tidak dapat begitu saja digantikan oleh teknologi. Kemampuan menggali informasi, membaca situasi, melakukan verifikasi, hingga membangun komunikasi dengan narasumber membutuhkan pertimbangan dan pengalaman manusia.

Pandangan serupa disampaikan Septa Ryan Hidayat. Menurutnya, AI memang memiliki kemampuan mengolah informasi dalam waktu cepat, tetapi manusia tetap harus menjadi pihak yang menentukan nilai, konteks, serta etika dalam penggunaannya.

Dalam kesempatan tersebut, Septa Ryan Hidayat juga memberikan sesi praktik dan hands-on penggunaan AI untuk pembuatan berita bagi jurnalis.

Pada sesi tersebut, para jurnalis dilatih untuk memanfaatkan AI secara efektif dalam mendukung proses kerja jurnalistik. Praktik tersebut sekaligus mendorong kolaborasi antar rekan jurnalis agar penggunaan teknologi dapat memberikan manfaat tanpa mengabaikan prinsip-prinsip jurnalistik.

Septa menegaskan, perkembangan teknologi digital, termasuk AI, harus ditempatkan sebagai alat bantu yang mendukung pekerjaan manusia. Kendali tetap berada di tangan manusia, terutama ketika menyangkut akurasi informasi, tanggung jawab, serta etika jurnalistik.

Dengan demikian, kehadiran AI dinilai bukan sebagai ancaman bagi profesi jurnalis, melainkan sebagai teknologi yang dapat dioptimalkan untuk meningkatkan efisiensi kerja. Namun, kemampuan manusia dalam melakukan verifikasi, membangun relasi dengan narasumber, memahami konteks, serta mempertanggungjawabkan sebuah karya jurnalistik tetap menjadi hal yang tidak tergantikan.

Pada hari berikutnya, kegiatan CBM berlanjut di Omah Lembah Merapi Desa Penting Sari, Kecamatan Cangkringan, kabupaten Sleman, Yogyakarta. Peserta mendapatkan materi mengenai sistem pembayaran dan perlindungan konsumen dari Asisten Analis Fungsi Implementasi Kebijakan Sistem Pembayaran dan Perlindungan Konsumen BI Sultra, Harbianti.

Motivator Nasional Aqua Dwipayana (Foto Dok Swarasultra.id)

Sementara itu, pakar komunikasi sekaligus motivator nasional, Aqua Dwipayana, memberikan materi bertajuk “The Power of Silaturahmi.”

Mantan wartawan ini menjelaskan bahwa media bukan hanya penyampai berita, tetapi mitra strategis dalam membangun kepercayaan publik.

Di lokasi yang sama, Fasilitator-Kolaborator Pemberdayaan Masyarakat Desa Pentingsari, Erwan Widyarto, mengungkapkan, Desa Pentingsari merupakan destinasi wisata yang dikelola masyarakat dan menjadi yang terbaik di Jogja dan Indonesia

Menurutnya, desa wisata berbeda dengan destinasi wisata konvensional karena kekuatan utamanya terletak pada potensi lokal dan cerita masyarakatnya.
“Desa wisata bukan taman hiburan. Yang dijual bukan sekadar tempat, tetapi cerita tentang manusianya dan budayanya,” ujarnya.

Erwan menjelaskan, pengembangan desa wisata harus diawali dengan menggali seluruh potensi yang ada, kemudian menentukan mana yang paling unik, khas, dan tidak dimiliki daerah lain. Keunikan tersebut menjadi unique selling point (USP) yang dapat memperkuat daya saing desa wisata.

Dalam konsep pariwisata, atraksi wisata pada dasarnya bersumber dari tiga hal, yakni budaya, alam, dan hasil buatan manusia. Namun, desa wisata dinilai perlu lebih kuat mengangkat potensi budaya dan kehidupan masyarakatnya.

Ia mencontohkan Desa Wisata Pentingsari yang memiliki kekuatan pada pengalaman tinggal di rumah warga atau homestay. Saat sekitar 30 orang membutuhkan tempat menginap, mereka dapat ditempatkan di sejumlah rumah warga. Setiap rumah bahkan menawarkan cerita dan pengalaman yang berbeda.

“Di situlah yang kemudian bisa ditulis. Pengalaman menginap di desa wisata menjadi bagian dari cerita,” tutup Erwan. (Red)

error: Content is protected !!