Oleh:
Muh. Ikhsan AR. (Direktur Pusat Studi Pancasila dan Konstitusi (PUNCAK) IAIN Kendari dan Maheswara Utama PIP BPIP RI) &
Irma Irayanti (Dosen Pancasila dan Civic Education IAIN Kendari dan Penceramah Pancasila PIP BPIP RI)
Di tengah derasnya arus globalisasi, pertarungan ideologi, polarisasi politik, dan kebisingan ruang digital, bangsa Indonesia menghadapi tantangan yang tidak ringan. Kemajuan teknologi telah mempercepat arus informasi, tetapi pada saat yang sama juga mempercepat penyebaran kebencian, hoaks, dan fragmentasi sosial. Dalam situasi seperti ini, bangsa Indonesia membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar aturan hukum dan program pembangunan. Kita membutuhkan jiwa yang mampu menjaga arah perjalanan bangsa.
Di sinilah Pancasila menemukan relevansinya. Ia bukan sekadar dasar negara yang dihafalkan dalam buku pelajaran atau dibacakan dalam upacara kenegaraan. Pancasila adalah api yang harus terus dijaga agar tidak padam diterpa badai zaman.
Sebagaimana api memberi cahaya dan kehangatan, Pancasila memberi arah dan makna bagi kehidupan kebangsaan. Tanpa cahaya itu, bangsa dapat tersesat dalam gelapnya egoisme kelompok, fanatisme sempit, dan perebutan kepentingan yang tak berujung.
Zikir Kebangsaan yang Menghidupkan Nurani
Dalam tradisi Islam, zikir bukan sekadar pengulangan kata-kata, melainkan upaya menghadirkan kesadaran terus-menerus kepada Allah. Zikir menjaga hati agar tidak lalai, tidak keras, dan tidak kehilangan arah.
Allah SWT berfirman:.
*الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ*
Alladzīna āmanū wa tathma’innu qulūbuhum bidzikrillāh. Alā bidzikrillāhi tathma’innul qulūb.
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Jika zikir menjaga kesadaran spiritual individu, maka Pancasila dapat dipahami sebagai “zikir kebangsaan” yang menjaga kesadaran kolektif bangsa. Ia mengingatkan kita bahwa Indonesia dibangun bukan oleh satu golongan, satu agama, satu suku, atau satu kepentingan, tetapi oleh tekad bersama untuk hidup dalam persatuan.
Pancasila adalah ingatan kolektif bangsa tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita hendak menuju.
Ketika Badai Menguji Fondasi Bangsa
Setiap zaman memiliki badai yang berbeda. Pada masa perjuangan kemerdekaan, badai itu bernama kolonialisme. Pada masa awal kemerdekaan, badai itu bernama disintegrasi dan pemberontakan. Pada masa kini, badai itu hadir dalam bentuk yang lebih halus: intoleransi, korupsi, politik identitas, konsumerisme, radikalisme, dan hilangnya kepercayaan sosial.
Yang mengkhawatirkan, badai-badai modern sering kali tidak menghancurkan bangunan fisik bangsa, tetapi menggerogoti fondasi moralnya.
Ketika kejujuran dianggap kelemahan, ketika fitnah dianggap strategi politik, ketika perbedaan dianggap ancaman, maka sesungguhnya yang sedang terkikis bukan hanya etika sosial, melainkan juga ruh kebangsaan.
Dalam konteks inilah Pancasila harus dihadirkan kembali, bukan sebagai slogan, melainkan sebagai kesadaran hidup.
Ketuhanan yang Membebaskan
Sila pertama mengajarkan bahwa kehidupan berbangsa harus berakar pada kesadaran ketuhanan.
Ketuhanan dalam Pancasila bukanlah alat untuk memecah belah manusia, tetapi sumber moral untuk memuliakan manusia.
Allah SWT berfirman:
*إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ*
Inna akramakum ‘indallāhi atqākum.
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini mengajarkan bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh identitas sosial, melainkan oleh kualitas moral dan spiritual.
Karena itu, semakin tinggi keberagamaan seseorang, seharusnya semakin tinggi pula penghormatannya terhadap kemanusiaan.
Persatuan sebagai Amal Kebangsaan
Persatuan bukanlah keadaan yang datang dengan sendirinya. Ia harus dirawat setiap hari.
Sebagaimana seorang petani menjaga tanaman dari hama dan kekeringan, bangsa Indonesia harus menjaga persatuannya dari benih-benih perpecahan.
Dalam pandangan sufistik, perbedaan bukanlah ancaman. Perbedaan adalah cara Tuhan memperlihatkan keluasan ciptaan-Nya.
Allah SWT berfirman:
*وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُو*
Wa ja’alnākum syu’ūban wa qabā’ila lita’ārafū.
“Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Maka tugas bangsa Indonesia bukan menghapus perbedaan, melainkan mengubah perbedaan menjadi kekuatan untuk saling melengkapi.
Pancasila sebagai Akhlak Publik
Tantangan terbesar Pancasila hari ini bukan pada tataran konsep, melainkan implementasi.
Semua orang mengaku mencintai Pancasila. Namun cinta sejati tidak diukur dari ucapan, melainkan tindakan.
Pancasila hidup ketika pejabat menolak korupsi.
Pancasila hidup ketika guru mengajar dengan integritas.
Pancasila hidup ketika tokoh agama menyebarkan kedamaian.
Pancasila hidup ketika masyarakat menolong sesama tanpa menanyakan asal-usul dan keyakinannya.
Dalam bahasa tasawuf, nilai sejati bukanlah yang dihafal oleh lisan, melainkan yang menjelma menjadi akhlak.
Karena itu, Pancasila pada hakikatnya adalah akhlak publik bangsa Indonesia.

Menjaga Api
Pada usia ke-81 tahun, Pancasila mengajarkan bahwa bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tidak pernah menghadapi badai, melainkan bangsa yang mampu menjaga apinya tetap menyala di tengah badai.
Api itu adalah ketuhanan yang melahirkan kejujuran.
Api itu adalah kemanusiaan yang melahirkan kasih sayang.
Api itu adalah persatuan yang melahirkan kebersamaan.
Api itu adalah musyawarah yang melahirkan kebijaksanaan.
Api itu adalah keadilan yang melahirkan kesejahteraan.
Selama api itu tetap hidup dalam hati rakyat Indonesia, selama nilai-nilai Pancasila terus berdenyut dalam tindakan sehari-hari, maka badai apa pun tidak akan mampu memadamkan cahaya Indonesia.
Sebab sesungguhnya, Pancasila bukan hanya warisan para pendiri bangsa. Pancasila adalah amanah moral yang harus terus dizikirkan dalam kehidupan bersama.
Selamat Hari Pancasila ke-81
Karena bangsa yang kehilangan zikir kebangsaannya akan kehilangan arah, tetapi bangsa yang menjaga nilai-nilainya akan selalu menemukan jalan pulang menuju persatuan, keadilan, dan kemanusiaan
Wallahu A’lam bi al-Shawab
Salam Pancasila ✋🇮🇩







