Swarasultra.id, Kendari – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Tenggara (Sultra) optimistis pertumbuhan ekonomi daerah pada Triwulan III 2026 akan terus menguat dan tetap berada di atas rata-rata nasional.
Optimisme tersebut sejalan dengan kinerja ekonomi Sultra pada Triwulan II 2026 yang tumbuh 6,19 persen secara tahunan (yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,29 persen.
Kepala Kantor Perwakilan BI Sultra, Edwin Permadi, mengatakan penguatan ekonomi daerah pada Triwulan III salah satunya didorong mulai beroperasinya sejumlah proyek hilirisasi tambang nikel, termasuk pengolahan hingga menghasilkan bahan baku baterai.
Menurut dia, aktivitas produksi pada sektor tersebut sebelumnya sempat tertunda akibat kendala pasokan bahan baku yang berkaitan dengan situasi di kawasan Timur Tengah. Namun, aktivitas produksi diperkirakan kembali meningkat pada Triwulan III 2026.
“Proyeksi kita pada Triwulan III akan meningkat dan harapan kita tetap berada di atas pertumbuhan nasional untuk mendukung perekonomian hingga akhir tahun,” ujar Edwin saat Bincang Bareng Media di Kendari, Selasa (29/9/2026) malam.
Meski sektor pertambangan masih menjadi salah satu motor utama pertumbuhan, BI Sultra mendorong diversifikasi ekonomi agar perekonomian daerah tidak terlalu bergantung pada komoditas tambang.
Edwin menjelaskan pengembangan ekonomi hijau dan ekonomi biru dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan di Sultra. Potensi tersebut didukung oleh wilayah perairan yang luas serta sumber energi terbarukan, termasuk energi angin dan laut.
Ia menilai berbagai potensi tersebut perlu dioptimalkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan.
Di sisi lain, BI Sultra terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga insan pers untuk menopang perekonomian daerah.
Selain itu, BI Sultra juga telah menyiapkan sejumlah program antara lain business matching untuk membantu UMKM dan pondok pesantren menembus pasar ekspor serta pengembangan destinasi pariwisata unggulan seperti Wakatobi, Labengki, dan Buton.
Lebih jauh Edwin menjelaskan, upaya memperkuat gagasan dan rekomendasi kebijakan ekonomi juga dilakukan melalui Forum Ekonomi Sulawesi Tenggara (FORKESTRA) 2026.
FORKESTRA tahun ini berhasil menjaring 964 pendaftar dengan 405 karya ilmiah atau opini dari mahasiswa, akademisi, dan masyarakat umum. Jumlah karya yang masuk meningkat 33,2 persen dibandingkan penyelenggaraan pada 2025.

Mengusung tema “Mewujudkan Ekosistem Ekonomi Sulawesi Tenggara yang Inklusif, Mandiri, dan Berdaya Saing Global”,
FORKESTRA 2026 mengangkat lima subtema strategis, yakni hilirisasi dan ketahanan pangan, konektivitas wilayah, inovasi dan tata kelola, ekonomi inklusif, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Karya-karya tersebut dinilai oleh tim penguji profesional dan guru besar. Para peserta juga berkesempatan mempresentasikan gagasannya di hadapan jajaran kepala dinas pemerintah daerah.
Edwin menambahkan, FORKESTRA diharapkan tidak berhenti pada kompetisi karya tulis, tetapi menghasilkan gagasan yang dapat menjadi bahan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah.
“Output yang kami harapkan bukan sekadar karya tulis, melainkan gagasan konkret yang dapat direkomendasikan kepada pemerintah daerah. Misalnya, riset terkait penerapan ekonomi biru di Wakatobi atau langkah penanganan inflasi pangan,” tuturnya.
Rangkaian FORKESTRA 2026 akan mencapai puncaknya melalui Seminar Nasional pada 5 Oktober 2026. Seminar tersebut akan menghadirkan ekonom nasional Irman Faiz dan influencer Gen Z Xaviera Putri. Pada kesempatan yang sama, BI Sultra juga akan mengumumkan para pemenang lomba opini.
Gagasan yang terpilih diharapkan dapat menjadi masukan konkret dalam mendorong pengembangan ekonomi Sultra yang lebih inklusif, mandiri, berkelanjutan, dan berdaya saing. (Red)













