Swarasultra.id, Kendari – Upaya menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi di Sulawesi Tenggara (Sultra) terus diperkuat melalui sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, serta berbagai instansi terkait.
Komitmen tersebut turut tercermin dari sejumlah prestasi yang diraih Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sultra dan kabupaten/kota pada Rakornas Tim Pengendalian Inflasi yang digelar 24 September 2026.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sultra, Edwin Permadi, mengatakan sejumlah daerah di Sultra berhasil meraih penghargaan dalam ajang tersebut.
Menurut Edwin, TP2DD/TPID Kabupaten Kolaka Timur meraih juara pertama TPID Berprestasi tingkat kabupaten/kota se-Sulawesi. Sementara TPID Kabupaten Bombana meraih juara kedua kategori yang sama.
Kemudian, TPID Kota Baubau meraih juara kedua TPID Berkinerja Terbaik tingkat kabupaten/kota se-Sulawesi. Adapun TPID Sultra meraih juara ketiga TPID Berkinerja Terbaik tingkat provinsi se-Sulawesi.
“Capaian tersebut tentunya sejalan dengan komitmen dan sinergi yang terus dilakukan oleh pemerintah daerah, Bank Indonesia, serta instansi terkait lainnya dalam menjaga stabilitas harga dan memastikan pengendalian inflasi, khususnya pada komoditas pangan, dapat berjalan dengan baik,” kata Edwin dalam acara Bincang Bareng Media, Rabu (30/9/2026) malam di Kendari.
Menurut Edwin, penghargaan tersebut bukan hanya menjadi capaian bagi daerah yang menerima penghargaan, tetapi juga dapat menjadi motivasi bagi kabupaten/kota lainnya untuk terus memperkuat inovasi dalam pengendalian inflasi.
Terutama, kata dia, inovasi yang berkaitan dengan penguatan ketahanan pangan, kelancaran distribusi, serta upaya menjaga keterjangkauan harga komoditas yang dibutuhkan masyarakat.
“Prestasi ini diharapkan juga menjadi motivasi bagi kabupaten/kota lainnya untuk terus berinovasi dalam menjaga stabilitas pangan di daerah secara tepat sasaran dan berkelanjutan,” ujarnya.
Inflasi Sultra masih terkendali
Edwin menjelaskan, perkembangan harga di Sultra pada Agustus 2026 masih berada dalam kondisi terkendali. Secara bulanan, Sultra mengalami deflasi sebesar 0,31 persen atau -0,31 persen (mtm).
Deflasi tersebut sejalan dengan normalisasi harga sejumlah komoditas pangan setelah periode panen.
Selain itu, kondisi harga energi dan transportasi yang relatif terkendali turut mendukung perkembangan inflasi di daerah.
Sementara secara tahunan, inflasi Sultra tercatat sebesar 3,19 persen atau 3,19 persen (yoy). Angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen ± 1 persen.
Inflasi Sultra juga tercatat lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang berada di level 3,35 persen (yoy).
“Kalau secara tahunan, inflasi Sulawesi Tenggara masih berada dalam rentang sasaran, yakni 3,19 persen (yoy), dan relatif lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang sebesar 3,35 persen,” jelas Edwin.
Dari sisi komoditas, sejumlah bahan pangan menjadi penyumbang utama deflasi Sultra pada Agustus 2026. Penurunan harga antara lain terjadi pada komoditas tomat yang memberikan andil deflasi sebesar 0,08 persen. Selain itu, ikan layang sebesar 0,07 persen, sedangkan kangkung dan bahan bakar rumah tangga masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,04 persen.
Penurunan harga komoditas pangan tersebut turut mencerminkan normalisasi pasokan dan harga setelah periode panen.
Namun demikian, masih terdapat sejumlah komoditas yang memberikan tekanan terhadap inflasi. Kacang panjang dan pendidikan tinggi masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,03 persen.
Sementara komponen angkutan laut memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengendalian inflasi tidak hanya berkaitan dengan harga pangan, tetapi juga membutuhkan koordinasi lintas sektor, termasuk distribusi, transportasi, pendidikan, serta ketersediaan pasokan.
Karena itu, sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia dan instansi terkait menjadi penting untuk memastikan stabilitas harga tetap terjaga sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
BI Sultra bersama pemerintah daerah pun terus mendorong berbagai langkah pengendalian inflasi agar dilakukan secara konsisten, berbasis kondisi daerah, dan berkelanjutan. Dengan kondisi inflasi yang tetap berada dalam sasaran serta capaian sejumlah TPID di tingkat Sulawesi, penguatan koordinasi di daerah diharapkan dapat terus menjaga stabilitas harga dan mendukung perekonomian Sultra. (Red)













