Swarasultra.id, Kendari – Waspada bagi warga Sulawesi Tenggara. Indonesia Anti Scam Centre (IASC) Sultra merilis tiga modus penipuan keuangan yang paling sering menjerat korban sepanjang Januari hingga November 2025. Data ini menjadi peringatan keras di tengah meningkatnya laporan kejahatan siber di Bumi Anoa.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sultra, Bismi Maulana Nugraha, mengatakan, ada tiga jenis scam yang paling banyak dilaporkan masyarakat.
Mulai dari dering telepon misterius atau fakta call yang mengaku sebagai petugas resmi, iming-iming barang murah di lapak digital, hingga janji manis keuntungan investasi yang tak masuk akal, rentetan modus ini terus memakan korban di tengah meningkatnya aktivitas transaksi digital masyarakat.
Bismi merincikan, kasus fake call yang diadukan masyarakat 294 laporan, disusul modus jual beli online 230 laporan, serta penipuan investasi 137 laporan.
Adapun total pengaduan masuk ke IASC Sultra selama 11 bulan pada 2025 adalah 1.460 laporan dengan total kerugian senilai Rp21.869.056.114 atau Rp21,8 miliar.
Dari 15 kabupaten dan dua kota di Bumi Anoa, jumlah laporan dan dana kerugian terbesar berasal dari Kota Kendari.
“Jumlah laporan dari Kota Kendari sebanyak 578 laporan dengan dana kerugian senilai Rp10,7 miliar,” kata Bismi dalam Forum Media Briefing Triwulan Pertama dan Rapat Koordinasi Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal atau (Satgas PASTI) di Gedung Learning Center OJK Sultra di Kendari.
Untuk itu, ia mengingatkan masyarakat wajib mencurigai nomor tak dikenal apalagi sampai meminta informasi pribadi seperti nomor kartu ATM, PIN, kode CVV/CVC, tanggal kedaluwarsa kartu, maupun kode OTP.
“Sudah banyak modus penipuan melalui telemarketing, asuransi, bilang rekeningnya terblokirlah, macam-macam, jadi kami imbau agar masyarakat terus berhati-hati,” terangnya.
Kepala OJK Sultra menegaskan jika menjadi korban penipuan online, masyarakat diharapkan segera melapor melalui laman IASC iasc.ojk.go.id. Kemudian klik Lapor Sekarang, mengisi formulir data diri, menjelaskan kronologi, lalu unggah bukti transfer.
Kota Kendari menjadi daerah yang paling banyak melaporkan aktivitas scam ini dengan 579 laporan dengan total kerugian Rp10.776.859.509, sementara Kabupaten Konawe Kepulauan terendah hanya 9 laporan dan kerugian Rp24.688.460. (Red)













