Swarasultra.id, Kendari – Sektor jasa keuangan di Sulawesi Tenggara (Sultra) menunjukkan taringnya di awal tahun 2026. Dalam kegiatan Media Brifing Triwulan I dan Rakor Satgas Pasti yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sultra pada Kamis (5/3/2026) di kantornya melaporkan tren pertumbuhan positif di berbagai lini, mulai dari perbankan hingga lonjakan drastis investor pasar modal.
Kepala OJK Sultra, Bismi Maulana Nugraha, mengungkapkan bahwa stabilitas keuangan daerah masih terjaga kokoh di tengah dinamika ekonomi global.
Perbankan Sultra: Aset dan Kredit Terus Mendaki
Sektor perbankan masih menjadi motor utama ekonomi Bumi Anoa. Per Januari 2026, total aset perbankan mencapai Rp61,68 triliun, tumbuh 6,5% secara tahunan atau year on year (yoy).
Dana Pihak Ketiga (DPK): Terkumpul Rp33,64 triliun (naik 5,9%), dengan Tabungan sebagai instrumen favorit masyarakat (65,3%). Sementara penyaluran kredit mencapai Rp42,59 triliun (naik 5,1%).
Rasio kredit bermasalah (NPL) sangat terjaga di level 2,10%, jauh di bawah ambang batas regulator. Namun, OJK mencatat adanya ketimpangan inklusi.
“Perputaran uang masih berpusat di Kota Kendari yang menguasai Rp20,46 triliun DPK dan Rp24,41 triliun penyaluran kredit,” kata Bismi.
Ledakan Investor Muda
Transaksi Saham Meroket 155%.
Fenomena paling menarik terlihat di pasar modal. Hingga Desember 2025, jumlah investor di Sultra meledak hingga 123.794 orang, tumbuh hampir 45%.
Yang lebih fantastis, nilai transaksi saham di Sultra melonjak hingga Rp608,11 miliar, naik sebesar 155,89%. Instrumen investasi yang paling digandrungi adalah:
Reksa Dana: 70,13%
Saham: 28,07%
Surat Berharga Negara (SBN): 1,81%
Kerugian Penipuan Capai Rp21,8 Miliar
Namun di balik pertumbuhan yang gemilang, terdapat masalah pada aspek keamanan transaksi. Indonesia Anti Scam Centre (IASC) mencatat 1.460 laporan penipuan keuangan di Sultra dengan total kerugian warga mencapai Rp21,8 miliar.
“Kota Kendari menjadi wilayah dengan jumlah laporan penipuan tertinggi,” ungkap Bismi.
Selain itu, sepanjang tahun lalu, OJK menerima 1.713 pengaduan masyarakat yang didominasi oleh masalah di sektor perbankan, perusahaan pembiayaan, dan fintech.
Komitmen Literasi di Tahun 2026
Menanggapi tingginya angka penipuan dan ketimpangan akses keuangan, OJK Sultra memasang target untuk tahun 2026 dengan
menjangkau 160.000 peserta baru.
Bismi bilang pihaknya memperluas akses layanan keuangan ke pelosok kabupaten dan memperkuat perlindungan konsumen agar masyarakat tidak mudah terjebak skema scam.
Komitmen OJK Sultra dalam menjangkau hingga pelosok daerah menjadi sinyal positif bagi masa depan ekonomi di Bumi Anoa. Sinergi edukasi dan inklusi ini adalah kunci untuk menciptakan masyarakat yang mandiri secara finansial, demi pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih merata dan berkelanjutan di tahun 2026.(Red)













