Swarasultra.id, Kendari – Menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2026, Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tenggara bergerak cepat mengamankan kantong masyarakat dari lonjakan harga pangan. Melalui sinergi ketat dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), BI Sultra resmi meluncurkan rangkaian Gerakan Pangan Murah (GPM) dan subsidi distribusi pangan mulai Februari ini guna memastikan harga kebutuhan pokok tetap stabil dan terjangkau.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tenggara, Edwin Permadi, menjelaskan bahwa kegiatan GPM melibatkan delapan TPID yang bekerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Langkah tersebut bertujuan menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan pasokan pangan bagi masyarakat.
“Sinergi antara Bank Indonesia dan TPID terus diperkuat untuk memastikan harga tetap terkendali, khususnya menjelang periode meningkatnya permintaan pada Ramadan dan Idul Fitri,” kata Edwin usai kegiatan BBM disalah satu Coffee Shop di Kendari, Senin (9/02/2026) malam.
Tak hanya mengendalikan inflasi, BI Sultra juga memastikan kelancaran transaksi masyarakat melalui penyelenggaraan Program SERAMBI (Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri) 2026. Di mana program ini menyediakan layanan penukaran uang rupiah layak edar melalui kas keliling, loket perbankan, serta layanan penukaran bersama yang terintegrasi dengan sistem digital PINTAR.
Pada SERAMBI 2026, batas maksimal penukaran uang per orang juga ditingkatkan menjadi Rp5,3 juta, atau naik 23,2 persen dibandingkan tahun 2025.
Selain itu, Kantor Perwakilan BI Sulawesi Tenggara juga menyiapkan dana sebesar Rp1,2 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadan dan Idul Fitri 2026,
Lebih lanjut Edwin menerangkan, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara juga didorong oleh pesatnya perkembangan transaksi non-tunai, khususnya melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Pada Triwulan IV-2025, jumlah pengguna QRIS bertambah sebanyak 31.723 pengguna, sehingga total mencapai 303.254 pengguna, tumbuh 12 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Adapun jumlah merchant QRIS mengalami peningkatan signifikan sebesar 37,65 persen (yoy) menjadi 239.463 merchant. Seiring dengan itu, volume transaksi QRIS melonjak tajam hingga 184,61 persen (yoy).
“Perkembangan transaksi digital ini menunjukkan semakin tingginya adopsi sistem pembayaran non-tunai di masyarakat, yang turut mendukung efisiensi dan pertumbuhan ekonomi daerah,” tutup Edwin. (Red)













