Oleh :
Kordinator Presidium FORHATI Wilayah Sultra, Rahmawati Azi
Dalam dunia jurnalistik yang kian ramai oleh kecepatan dan kompetisi, perempuan sering kali hadir dengan beban berlapis. Ia dituntut profesional, objektif, dan tangguh, namun pada saat yang sama masih harus bernegosiasi dengan stereotip gender, standar moral, dan keraguan yang dilekatkan pada tubuh serta suaranya. Dalam situasi seperti ini, pertanyaan pentingnya bukan lagi sekadar apakah perempuan mampu, melainkan bagaimana perempuan menyadari dan merebut kuasa atas dirinya sendiri.
Kesadaran diri menjadi isu feminis yang fundamental.
Feminisme tidak selalu hadir dalam bentuk perlawanan yang frontal, tetapi juga dalam praktik tanpa propaganda naratif, mengenali potensi, memahami batas, dan menentukan peran secara sadar. Dari kesadaran inilah kerja-kerja perempuan di ruang publik memperoleh makna daya saing.
FORHATI Sulawesi Tenggara dengan metode 30Strength Typology (ST-30) akan melaksanakan Tes Bakat bagi jurnalis perempuan. Kegiatan ini bukan sekadar pemetaan teknis atau agenda organisasi, melainkan ruang refleksi bagi perempuan untuk membaca dirinya sendiri, sebuah langkah yang dalam tradisi feminisme dikenal sebagai upaya merebut kembali otoritas atas tubuh, pikiran, dan pilihan hidup.
Selama ini, perempuan sering diposisikan sebagai objek penilaian: dinilai kompetensinya, dinilai suaranya, bahkan dinilai sikap dan ekspresi emosinya. Tes bakat yang kami lakukan justru membalik logika itu. Perempuan diajak menjadi subjek yang menilai dirinya sendiri, memahami kecenderungan peran, dan mengenali kekuatan yang dimilikinya. Inilah praktik feminisme yang berangkat dari self-awareness dan self-definition.
Dalam kerja jurnalistik, kesadaran ini sangat menentukan. Jurnalis perempuan tidak hanya berhadapan dengan fakta, tetapi juga dengan relasi kuasa: siapa yang boleh bicara, isu apa yang dianggap penting, dan suara siapa yang kerap disisihkan.
Tanpa kesadaran diri, perempuan mudah terjebak menjadi pelaksana rutin dalam sistem yang belum sepenuhnya adil. Namun dengan kesadaran akan potensi dan batasnya, perempuan dapat memilih posisi yang lebih strategis, baik sebagai penulis, editor, penggerak isu, maupun penjaga perspektif kritis.
Feminisme mengajarkan bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang setara. Tes bakat membantu perempuan membaca pengalaman itu secara lebih terstruktur: apa yang menjadi kekuatan, di mana energi paling produktif bekerja, dan peran apa yang bisa dijalani tanpa harus mengorbankan diri secara berlebihan. Ini penting, karena kelelahan perempuan di ruang publik sering kali bukan disebabkan oleh kurangnya kemampuan, melainkan karena ditempatkan pada peran yang tidak selaras dengan potensi dan nilai yang diyakininya.
Di sinilah relevansi talent mapping dengan agenda feminis. Ia bukan alat untuk menyeragamkan perempuan, melainkan untuk menegaskan keberagaman. Tidak semua perempuan harus berada di garis depan yang sama, berbicara dengan cara yang sama, atau memperjuangkan isu dengan strategi yang seragam. Feminisme justru hidup dari keberagaman peran dan pilihan sadar.
FORHATI Sultra memandang bahwa kaderisasi perempuan ke depan tidak cukup hanya berbasis militansi dan loyalitas struktural. Ia harus dibangun di atas kesadaran diri, kejelasan peran, dan keberanian menentukan posisi. Jurnalis perempuan yang sadar akan kekuatannya akan lebih berdaulat dalam memilih isu, lebih berani mempertahankan perspektif, dan lebih tahan menghadapi tekanan.
Pada akhirnya, tes bakat ini bukan tujuan akhir. Ia adalah pintu masuk menuju praktik feminisme yang lebih membumi: perempuan yang mengenali dirinya, berdamai dengan keterbatasannya, dan dengan sadar merebut ruang kontribusi yang bermakna. Dalam dunia jurnalistik yang masih sarat bias gender, kesadaran semacam ini adalah bentuk perlawanan paling awal dan paling menentukan. (**)










