Swarasultra.id, Kendari – Perum Bulog Sulawesi Tenggara (Sultra) kini memangkas rantai birokrasi distribusi beras melalui aplikasi Klik SPHP. Inovasi digital ini memungkinkan para pedagang pasar memesan stok beras hanya lewat ponsel, memastikan pasokan pangan tetap terjaga tanpa harus antre panjang.
Skema distribusi langsung ini diharapkan menjadi senjata ampuh untuk meredam fluktuasi harga di pasar induk. Kepastian jadwal harian memastikan volume beras di tingkat pengecer tetap terjaga, sehingga potensi kelangkaan barang dapat ditekan sejak dini.
Untuk menjaga pemerataan distribusi, setiap pedagang dibatasi maksimal dua ton dalam setiap kali pengambilan. Di Pasar Mandonga, tercatat sebanyak 23 pengecer aktif menerima pasokan dari Bulog. Secara keseluruhan, lebih dari 200 pedagang pengecer di berbagai pasar menjadi bagian dari jaringan pantauan distribusi Bulog Sultra.
Selain memastikan kelancaran suplai, Bulog juga melakukan pemantauan harga secara intensif. Saat ini, harga beras premium di pasaran berkisar Rp14.500 per kilogram. Sementara itu, harga yang disalurkan melalui Bulog sebesar Rp15.500 per kilogram, masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan sebesar Rp15.700 per kilogram.
Manajer Supply Chain dan Pelayanan Publik Bulog Sultra, Yusran Yunus, menegaskan bahwa pengawasan terhadap pedagang terus dilakukan secara berkala. Jika ditemukan pelanggaran harga di atas HET, Bulog akan memberikan sanksi tegas.
“Kami terus melakukan kontrol di lapangan. Apabila ada pedagang yang menjual di atas HET, akan diberikan sanksi mulai dari teguran hingga pemutusan pasokan,” tegas Yusran.
Langkah proaktif Bulog Sultra ini diharapkan menjadi angin segar bagi masyarakat di tengah fluktuasi harga pangan nasional. Kini, bola panas ada pada konsistensi pengawasan di lapangan, agar jargon harga terjangkau bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan kenyataan di dapur warga.
Sementara itu, salah seorang pedagang beras mitra Bulog menyampaikan bahwa pihaknya selalu menjual beras SPHP sesuai HET.
“Kami tidak berani menjual di atas HET karena nanti bisa diputuskan kerjasama Bulog. Berasnya kadang cepat habis kadang juga lama bu, tergantung penjualan,” terangnya. (Red)













