HeadlineSultra

Ekspedisi Wallacea Usulkan 6000 Km2 Jadi Kawasan Konservasi, Lindungi Kekayaan Hayati dan Arkeologi Sultra

×

Ekspedisi Wallacea Usulkan 6000 Km2 Jadi Kawasan Konservasi, Lindungi Kekayaan Hayati dan Arkeologi Sultra

Sebarkan artikel ini
CO-Founder sekaligus Direktur Naturevolution, Evrard Wendenbaum, memaparkan hasil Ekspedisi Wallacea di Konut dan Sambori. (Foto dok Swarasultra.id)

Swarasultra.id, Kendari – Wallacea Expeditions mengusulkan pembentukan kawasan konservasi terpadu seluas sekitar 6.000 kilometer persegi di Sulawesi Tenggara dan wilayah sekitarnya. Langkah ini dilakukan sebagai upaya perlindungan keanekaragaman hayati dan warisan arkeologi di kawasan Wallacea yang telah memasuki fase krusial.

Dalam presentasi tersebut memaparkan hasil ekspedisi ilmiah multidisiplin yang mengungkap nilai ekologis, geologis, hidrologis, serta budaya dan arkeologi kawasan Wallacea, yang dinilai sebagai salah satu bentang alam dan sejarah bumi paling penting di Indonesia.

Ekspedisi ini hasil kolaborasi Universitas Halu Oleo (UHO) bersama NGO internasional Naturevolution, didukung berbagai institusi nasional dan global, berhasil mengidentifikasi potensi keanekaragaman hayati dan arkeologi bernilai tinggi di sejumlah kawasan terpencil Sulawesi Tenggara (Sultra).

Dalam Ekspedisi ini melibatkan Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), International Cooperative Biodiversity Group (ICBG), serta University of California Davis (UC Davis).

CO-Founder sekaligus Direktur Naturevolution, Evrard Wendenbaum, menjelaskan bahwa rangkaian ekspedisi telah dilakukan sejak 2012 dan tahap terbarunya rampung sekitar sepuluh hari lalu, menjelang Natal 2025. Fokus penelitian diarahkan pada wilayah-wilayah terpencil yang menyimpan nilai penting keanekaragaman hayati, arkeologi, dan sumber daya air.

“Awalnya kami melakukan eksplorasi di Madagaskar, namun sejak menemukan potensi luar biasa di Pegunungan Matarombeo pada 2012, Sulawesi menjadi fokus utama. Kawasan ini terbukti sebagai salah satu bentang hutan primer terbesar yang masih tersisa di Pulau Sulawesi,” kata Evrard dalam presentasinya, Senin (5/1/2026) di salah satu hotel di Kendari.

BACA JUGA:  DPRD Sultra Bahas Perubahan Status Bank Sultra Menjadi Perseroan Terbatas

Menurut Evrard, sejumlah kawasan penting seperti Sungai Lalindu, sistem gua karst berukuran besar, jembatan alami, serta bentang hutan pegunungan tropis masih ditemukan dalam kondisi relatif utuh. Ekspedisi yang dimulai pada Maret 2023 ini menutup rangkaiannya dengan kunjungan ke Pegunungan Tangkelemboke, Karst Matarombeo, Gunung Mekongga, yang berada di wilayah Kabupaten Konawe Utara, Kolaka, dan Kolaka Utara yang merupakan pegunungan dengan ketinggian hingga 2.400 meter tersebut dikenal sebagai kawasan karst strategis yang berperan penting sebagai pemasok air bagi wilayah Sulawesi. Serta Pulau Sambori di kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Rangkaian Wallacea Expeditions menghasilkan berbagai temuan penting, mulai dari spesies fauna endemik Sulawesi yang rentan punah, data ekologi komprehensif hutan primer, identifikasi daerah tangkapan air (catchment area) yang menjadi sumber air utama bagi ratusan ribu jiwa, hingga temuan budaya arkeologi berupa fragmen keramik, lukisan gua prasejarah, serta indikasi aktivitas manusia purba.

Namun di balik kekayaan tersebut, tekanan terhadap hutan primer Sulawesi semakin nyata. Perluasan perkebunan, pembukaan lahan, serta aktivitas pertambangan terutama nikel telah menyebabkan fragmentasi hutan dalam skala dan kecepatan yang mengkhawatirkan. Analisis peta dan citra satelit menunjukkan tumpang tindih antara kawasan hutan utuh dengan konsesi tambang, jalur pembalakan, serta area penimbunan material tambang.

BACA JUGA:  Kunjungi Stand Pameran HUT Sultra ke 61, Gubernur Berharap UMKM Bisa Naik Level

Wakil Gubernur, Ir. Hugua menilai kegiatan ekspedisi dan riset lapangan yang dilakukan di kawasan Gunung Tangkelemboke dan sekitarnya sebagai sebuah keberanian luar biasa.

Ia mengungkapkan, tim peneliti yang awalnya direncanakan kembali lebih cepat justru bertahan hampir 50 hari di lapangan, dengan berbagai risiko, demi memahami kondisi kawasan secara menyeluruh.

Lebih lanjut wagub Hugua menjelaskan bahwa kawasan Gunung Tangkelemboke, Karst Matarombeo, dan wilayah sekitarnya layak diusulkan sebagai kawasan konservasi nasional, terlebih hingga kini belum terdapat izin usaha pertambangan (IUP) yang beroperasi, sehingga peluang penyelamatan kawasan masih terbuka lebar. Meski demikian, kewenangan penetapan status kawasan hutan berada sepenuhnya pada pemerintah pusat.

Ia menegaskan bahwa perlindungan kawasan seluas kurang lebih 6.000 kilometer persegi tersebut sangat krusial untuk menjaga keberlanjutan sungai-sungai utama, seperti Sungai Lasolo, Sungai Walalindo, dan Sungai Konaweha, yang menopang kehidupan masyarakat di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, hingga Sulawesi Selatan.

Seluruh temuan ilmiah dari Wallacea Expeditions kini dihimpun sebagai dasar advokasi dan bahan pembahasan bersama kementerian terkait, dengan harapan kawasan ini dapat ditetapkan sebagai Taman Nasional sekaligus UNESCO Global Geopark. (Red)